Dalam kebuntuan, kita dipaksa untuk kreatif…

Entries from March 2007

Apa harus selesai ?

March 29, 2007 · 3 Comments

“Ji, memangnya seorang konsultan harus memastikan projectnya berhasil dijalankan ? ”

Pertanyaan dari seorang teman, sama terlibat dalam implementasi Axapta di tempat saya bekerja. Alasannya bertanya adalah dari melihat fakta di dunia nyata. Banyak konsultan tidak punya target sampai berhasil dijalankan. Entah di rentang waktu kapan dengan sebab apa, project terbengkalai, tidak selesai.

Bukan, ini bukan dari konsultan Axapta di tempat saya bekerja. Hanya mengambil contoh dari konsultan sebelum Axapta. Juga bukan untuk menjelekan seseorang.Atau konsultan.Sama sekali bukan itu.

Jawaban saya,’Ya harus dong mas Win, bagaimana bisa projectnya ditutup kalau belum bisa dijalankan, nanti tidak dibayar lah..”.

Sepakat lah sudah, apa yang ada di kepala. Tiap pekerjaan konsultansi apalagi di dunia IT, ada mulainya dan akhirnya. Mulai dengan tanda tangan kontrak diakhiri dengan pembayaran. Sederhana bukan ?

:D Tapi tidak sesederhana itu jika dilakukan….

Powered by ScribeFire.

Categories: Axapta

Darimana memulainya ?

March 26, 2007 · 3 Comments

Ya, pertanyaan ini sering diajukan ke saya kalau bertemu teman sesama pengembang perangkat lunak Foxpro. Apa yang harus saya lakukan untuk memulai mengembangkan aplikasi di java dengan paradigma berangkat dari Foxpro ?

Pertama, apa yang ingin saya tulis semata-mata hanya pengalaman pribadi saya saja yang mengalami perpindahan dari Foxpro ke Java, jadi belum tentu bisa digunakan secara general untuk teman-teman dari bahasa pemrograman yang lain.

Kedua, pikiran yang ada di tulisan ini adalah campuran dari diskusi saya dengan Feri Lauw dan Machfud, teman-teman seperjuangan ketika mendengar pengumuman geledek dari Microsoft, tentang rencana mereka tidak melanjutkan pengembangan Visual Foxpro versi 10.

Apa sih Java itu ?

Java adalah sebuah platform dan bahasa pemrograman yang bisa kita gunakan membangun aplikasi. Jika membuat program dalam Java, dijamin program kita bisa jalan di beberapa OS yang berbeda tanpa kita harus membuat ulang. Sekilas mirip browser, tapi Java lebih dari itu, karena program yang kita buat tidak hanya jalan di browser saja, aplikasi Graphical User Interface (GUI) yang biasa kita buat di Foxpro, bisa kita bangun di Java tanpa harus merubah baris-baris program untuk dapat jalan di Linux, Windows, FreeBSD, dll.

Perubahan paradigma dalam memahami sesuatu yang baru, baiknya lewat sumber yang valid. Jika mau belajar memahami Java, bacalah tutorial awal tentang Java. Mulai dari konsep OOP dan penerapannya di dalam implementasi bahasa Java tsb.
Baiknya teman-teman melihat situsnya di http://java.sun.com untuk melihat teknologi apa sih sebenarnya Java itu.

Langkah – langkah saya memulai Java adalah :

Download Java Virtual Machine (JVM) dari situs http://java.sun.com. Java Virtual Machine, adalah mesin yang digunakan untuk menjalankan aplikasi yang kita buat dari Java. Instal JVM di komputer kita. Memori yang dibutuhkan untuk menjalankan JVM tidak terlalu besar.

Siapkan editor untuk memulai menulis syntax Java. Saya tidak menganjurkan untuk memakai IDE kelas berat seperti Netbeans, Eclipse dll. Saya memulai java dengan menggunakan editor yang saya download dari www.sourceforge.net, namanya EJE. Ada banyak tersedia editor ringan di Sourceforge. Silahkan pilih sendiri sesuka anda.

Ingat pertimbangannya adalah besarnya pemakaian memori dalam komputer kita. Untuk kelas 128 mb sampai dengan 256 mb, saya menyarankan menggunakan EJE. Eclipse juga bisa dijalankan di lingkungan 256 mb, tapi ya itu lambat. Netbeans apalagi, untuk meloadnya saja butuh waktu lama di memori 256 mb.

Saya tidak menyarankan menggunakan Notepad apabila kita menggunakan Java di Windows, biarpun di tutorial ada contoh untuk membuat hello world menggunakan notepad. Mata saya pedas melihat syntax Java di Notepad. Tidak ada highlighting. Artinya tidak ada perbedaan yang jelas antara comment dan syntax yang bisa dirunning oleh kompiler. Teman-teman yang pernah merasakan editor Foxpro di DOS pasti tahu rasanya melihat syntax Foxpro hanya dalam warna hitam dan background hijau. :D

Tapi ingat jangan berkecil hati dengan memori komputer kita yang ada, karena ada jalan untuk bisa memahami Java dengan spek memori yang rendah.

Download tutorial dari http://java.sun.com. Ekstrak filenya di komputer kita, jadi kita bisa buka secara offline di rumah untuk mempelajarinya lebih dalam.

Mulailah menulis contoh program Java yang ada di dalam tutorial. Tulislah sendiri secara manual, jangan hanya mencopy dan paste ke dalam editor anda. Karena membiasakan diri untuk menulis syntax, akan lebih cepat memahami Java. Mulailah mencompile dan melihat apa sajakah error yang timbul dari penulisan kita. Belajar dari kesalahan akan membuat kita paham apa yang seharusnya kita lakukan.

Dan terakhir, semoga saya bisa menuliskan lagi apa yang saya tahu dari java untuk di share ke teman-teman. Ingat belajar java semata-mata bertujuan agar kita tidak terkunci di dalam satu alat yang bisa memonopoli kita. Jangan sampai pengalaman menyakitkan di Foxpro terulang lagi. Pasti bisa kita rasakan bagaimana rasanya alat yang biasa kita gunakan untuk menjemput rejeki tiba-tiba dihilangkan, kebingungan luar biasa kan ?

Semoga membantu

powered by performancing firefox

Categories: Java

Ternyata menjadi programmer freelance itu tidak mudah

March 23, 2007 · 59 Comments

Lha iya tidak mudah, bagaimana mungkin suatu proyek bisa selesai on time, kalau hari-hari pengerjaan diisi dengan pergi mengantar istri ke sana, kesini, membeli ini, itu, dll. Kalau seorang istri melihat suami yang mengerjakan pekerjaan di rumahnya dan kelihatan seperti orang yang diam, tidak melakukan apa apa, hanya duduk memandangi layar komputer, dianggap sebagai objek yang bisa diminta tolong,ya dijamin deh pekerjaan tidak akan selesai selesai. Kepala sang programmer bakalan penuh dengan baris-baris program yang ditinggal sebelum berangkat mengantarkan istri. Isi kepala penuh dengan semua kondisi if-then-else yang belum ditutup, catch-exception yang masih berantakan,dll..Jangan sampai meleng di jalan, kalau melihat lampu merah seharusnya yang diinjak pedal rem tapi malah narik gas, bagaimana, bisa bikin repot kan, malah berbahaya euy..

Ada seorang teman yang menjalani hari-harinya sebagai programmer freelance. Hampir setiap hari ada di rumah, tentunya mengerjakan proyek – proyek yang harus diselesaikan sebelum batas deadline. Sepanjang hari ada di depan monitor, kecuali ya itu, kalau tidak makan, ya tidur atau sholat, atau mengantar istri/keluarga. Kemarin dia memberi tahu saya, ternyata dia dapat proyek yang harus dikerjakan on site, artinya dikerjakan di lokasi proyek. Bisa di perusahaan pemberi proyek, bisa di rumah bos proyek tsb, atau lokasi lain yang sudah disetujui antara mereka, yang jelas bukan di rumah. Teman saya itu bilang, ternyata bekerja di luar rumah bisa lebih fokus ke pekerjaan, full time mengerjakan proyek dari pagi sampai sore. Tidak ada yang ‘mengganggu’. Dan yang lebih enak lagi, komunikasi antara programmer dan user, bisa lebih cepat. Bisa lebih menghasilkan solusi yang lebih jitu untuk digunakan pada saat pembuatan program.

Selama ini saya merasa, kalau bekerja di rumah akan lebih enak daripada kerja di luar rumah. Salah satu alasan yang sering saya pakai, bisa lebih menyediakan waktu untuk keluarga. Keluarga adalah nomor satu dalam hidup saya, baru setelahnya adalah pekerjaan. Tapi, kalau kejadiannya seperti yang dialami teman saya itu, wah repot juga ya, bisa hilang deh kepercayaan antara programmer yang mengimplementasikan dan user yang berharap selesai sesuai waktunya. Jangankan teman saya, wong istri telepon mengabarkan kondisi badannya tidak enak badan saja, atmosfir di kantor jadi berubah seperti badai calamity yang memporak-porandakan seisi kota. Apalagi kalau saya ada di rumah dan langsung melihat raut muka istri/keluarga yang sakit, tidak perlu ada kata-kata, yang ada saya mungkin bisa langsung pergi ke rumah sakit mengantarkan berobat. Benar-benar bayangan yang ekstrim yang pernah saya bayangkan tentang bekerja secara freelance.

Kalau membayangkan yang buruk-buruk dahulu sebelum kita menjalaninya, biasanya hasilnya seperti yang dibayangkan itu, buruk hasil akhirnya. Tapi kalau penuh rasa optimis, tanpa kehilangan kaki yang berpijak pada realita, berani ambil resiko setelah ditimbang dengan matang untuk resiko paling kecil yang akan diambil, saya yakin apapun cita-cita kita/saya/anda semua, pasti bisa kita raih. Raih kemenangan atau kekalahan adalah sama saja. Karena orang bilang, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Tapi koq rasa-rasanya saya belum siap menerima kekalahan. Masih belum bisa 100% ikhlas menerima keputusanNya.

Categories: Way of Life

Beralih ke Java ?

March 23, 2007 · Leave a Comment

Sabtu kemarin, ada teman yang bawa cd Solaris yang bisa running di x86 atau pc. Lisensinya free, hardware spek yang disyaratkan lumayan berat, minimum 512 mb. Lalu yang versi developer editionnya, lebih gile lagi, 712 mb, minimum, karena di dalamnya sudah ada tool yang terinstal secara default, tanpa penambahan instal dari user. Yang tersebut adalah, mulai dari j2ee, netbeans, postgresql, mysql, dll. Hmm benar benar lingkungan yang ideal untuk seorang pengembang perangkat lunak…Sayangnya saya cuma bisa gigit jari melihat solaris diinstal, karena spek perangkat komputer yang saya punya belum bisa memenuhi requirementnya. Kapan ya bisa punya seperti itu ?

Akhirnya daripada nanti kepikiran yang bakal ke arah stress, saya instal j2ee nya dan eclipse di pc saya yang punya hard disk 80gb, dengan memori 128mb. Walhasilnya, saya bisa belajar dengan tenang, dan lambat but sure menuju development di java platform.

Ada bahan bacaan yang bilang, kalau jikes adalah jvm yang paling cepat yang pernah ada. Saya sudah pasang di pc, tapi masih belum ketemu caranya menghubungkan antara jikes dengan eclipse di lingkungan windows. Ada yang bisa bantu, karena saat ini saya juga sedang mempertimbangkan jrockit dari BEA. Siapa tahu lebih cepat untuk eclipse di pc saya hehehhe…

powered by performancing firefox

Categories: Java