Tebakan saya, film ‘Ayat-ayat Cinta’ akan mengalami hal yang sama dengan film ‘The Da Vinci Code’. Film itu akan mengalami pengurangan imajinasi para penontonnya. Membaca buku atau novel berbeda dengan menonton film. Dalam membaca buku, kepala kita diberikan kesempatan untuk berimajinasi dari gambaran yang ada di novel. Sedangkan film, seluruh adegan, gambar, dialog, tidak memberikan kesempatan kepala kita untuk mengimajinasikan alur ceritanya. Karena seluruh isi film adalah pagar pembatas kepala kita berimajinasi. Kesempatan membayangkan raut wajah Fahri, sudah terbatas dengan wajah sang aktor. Bayangan kamar Fahri dan Aisah setelah mereka menikah, dibabat habis dengan setting ruangan dalam film.Membaca Da Vinci Code dengan menontonnya, memberikan sensasi yang berbeda buat saya. Lebih asik membaca bukunya. Karena saya bisa lebih bebas membayangkan alur kota Paris di waktu malam. Siluet lampu yang ditimbulkan dari temaram penerangan museum tempat menyimpan lukisan Monalisa. Persis sama dengan saya mengimajinasikan panasnya gurun pasir di Mesir sana tempat Fahri menuntut ilmu di Universitas Al Azhar. Tiupan angin dengan debunya, panasnya naik trem, segarnya minum jus buah setelah dari luar rumah di tengah terik panas padang pasir.
Mungkin ini juga sebabnya saya tidak terlalu suka menonton televisi. Disamping saya yang sudah cape untuk menonton, juga sudah tidak minat mengikuti berita basi yang ada. Karena lebih cepat dapat berita dari sms yang masuk ke HP saya, membaca blog dari teman-2 dan melihat situs berita resmi.
Tapi itu semua, hanya perkiraan saya saja. Daripada dikira sok tahu bin sok jadi peramal kacangan, lebih baik kita menonton saja film ini. Penilaian saya kembalikan ke anda sekalian, pemirsa.
Powered by ScribeFire.
8 responses so far ↓
venus // December 14, 2007 at 7:56 am
that’s why aku ‘menolak’ nonton film yang diangkat dari sebuah buku. sayang banget, jadi ngrusak imajinasi yg uda kebentuk di otak, soalnya. dan biasanya (gak selalu, tapi hampirrr selalu..) aku kecewa nonton filmnya.
membaca dan membiarkan imajinasi kita bekerja, selalu jauh lebih indah.
ya gak sih?
salam kenal kalo kita blm kenal
>> Wah dikunjungi seleb blog nih
>> Salam kenal juga ibu, dari saya yang sering baca blognya…inspirational blog..
andi // December 17, 2007 at 1:24 pm
Kalau yang suka baca buku novel yang tebalnya minta ampun dan punya daya hayal tingkat tinggi memang menonton Movie bisa mencederai hayalan yang sudah terbentuk. Tapi bagiku yang males baca novel tebal, lebih enak nonton movie yang jauh lebih realistis dan abis itu lewat deh, simpan space otak yang kira – kira bagian recycle bin
biar gak menuh – menuhin kapasitas Otak
setiaji // December 17, 2007 at 2:28 pm
Makanya, tergantung hobi juga kan…
kurnia_1 // December 18, 2007 at 6:59 pm
he..he.. mbaca tetep nomor satu, terutama jika waktu senggang.. sebab mbaca kadang bisa dalam bentuk episode, babak, bab. Jadi bisa bersambung tanpa kehilangan ritme dan inti cerita.
Beda dengan pilem to.. ndak bisa liat putus-putus.. kecuali pilemnya emang trilogi atawa sequel he..he.
setiaji // December 19, 2007 at 7:52 am
4 kurnia_1: Penggemar cerita bersambung rupanya , kang Kurniawan…
wirda // December 19, 2007 at 3:03 pm
AAC memang topzzzz…mudah2aaaan filmnya juga okeh
lelaki budiman // January 9, 2008 at 2:17 pm
Menarik juga membicarakan peralihan dari novel ke Film … Ngomong-ngomong apa ya istilahuntuk untuk itu?
setiaji // January 9, 2008 at 2:35 pm
To lelaki budiman : he he he saya tidak tertarik dengan istilah, pokoknya beda lah rasanya …