Dalam kebuntuan, kita dipaksa untuk kreatif…

The World Is Flat

December 28, 2007 · 3 Comments

Terasa asingkah judul di atas ? Itu adalah judul buku seorang Thomas L Friedman, penulis kolom di New YorkTimes. Halamannya sebanyak 673, itu termasuk indeks di belakangnya. Lumayan tebal, cocok untuk bantal dan ganjalan pintu. Tapi aneh buat saya, membaca buku ini tidak ada bosannya. Saya bingung sendiri dibuatnya. Tiap bab menyajikan hal baru buat saya, setidaknya sudut pandang baru.

Buku ini saya baca di libur Iedul Adha dan Natal sekarang, dimana kegiatan banyak ada di rumah, biarpun saya harus masuk kerja dengan jam kerja yang santai untuk mensupport bagian akunting melakukan tutup buku tahun 2007. Di rumah juga nggak kalah ramenya, adik, saudara, teman pada datang. Mau lihat si kecil, katanya. Jadi susah deh nemu waktunya untuk sok serius dan sok konsen membacanya.

Hmm, ingin sekali saya menulis rangkumannya disini. Tapi koq ya belum selesai sampai tuntas hingga detik ini. Nanti deh kalau sudah selesai, mau saya tempel di sini. Mungkin saja ada yang membaca blog saya dan mau mengomentarinya. Narsis ya ? He he he … Menulis ya menulis saja dong tujuannya (dengan menunjuk ke diri sendiri) nggak usah bawa-bawa page rank segala. Memangnya kamu mau jadi seleb blog ? (Jurus ampuh menohok, mak jleb langsung ulu hati).

Blogged with Flock

→ 3 CommentsCategories: General IT

Menikmati hidup yang ada

December 26, 2007 · 3 Comments

Ini soal mengetik baris-baris program komputer, yang buat sebagian kita, untuk melihatnya saja sudah seperti melihat cabe pedas yang dipotong dekat mata, perih-pedas dibuatnya. Malah ada lagi sebagian yang ekstrim, koq ya ada orang yang kerjanya setiap hari melototi baris-baris yang sampai ribuan jumlahnya. He he he ya begitulah cara-cara orang dapet uang buat makan. Istilah bulenya, coding for living.

Setiap program komputer dibuat dengan 1 tujuan. Yaitu memudahkan hidup kita sebagai penggunanya. Tapi sayangnya proses untuk memudahkan, seringkali malah merumitkan. Lho koq bisa? Karena ternyata, memindahkan kegiatan sehari-hari ke dalam bahasa program komputer, sulitnya minta ampun, ini buat saya lho ya,  yang cekak IQnya, yang lambat respon otaknya.  Contohnya gini, misal saya mau ke wc, yang sekarang ini saya sedang ada di kamar, coba bikin program yang memetakan jalan dari kamar ke wc. Program ini harus detil sekali memetakannya, mulai dari bergerak dari tempat saya di kamar, sampai saya membuka pintu kamar mandi. He he he mulai kan terasa banyaknya langkah yang harus dipetakan. Dan asyiknya lagi, tidak ada peta yang sama dibuat, jika perintah yang sama diberikan ke orang lain untuk membuat peta yang sama.

Setelah peta dibuat, baru kita bisa masuk ke dalam aturan-aturan bahasa pemrograman, syntak, istilahnya. Jadi peta itu diterjemahkan ke bahasa mesin. Bahasa planet lain, yang para penghuninya mahluk-mahluk aneh  buat manusia. Bahasa pemrograman itu mirip toko material bangunan, yang didalamnya tersedia bermacam-macam alat/material untuk membangun rumah/toko/gedung/jalan dll. Semua ada ? Belum tentu, tergantung tokonya, punya apa saja ? Jadi penguasaan bahasa pemrograman sebenarnya tergantung sejauh mana kita kenal dengan isi dari syntaksnya. Kan sama saja kalau kita kenal toko material langganan, tahu barang yang tidak ada disana. Tahu kualitas barangnya. Tahu yang punya. Tahu harganya, mahal atau murah.

Setelah program komputer sudah dibuat, tahap selanjutnya adalah mengecek hasilnya. Sudah sama atau belum dengan kenginan kita. Kalau belum, rombak lagi baris-baris program yang sudah dibuat, susun lagi bongkahan pikiran-pikiran sebelumnya, lihat petanya, sudah benarkah jalurnya. Yang enak, sekali buat program, langsung benar sesuai dengan tujuan kita. Tapi umumnya, begitu jadi, ada saja hal yang ingin kita rubah, mulai dari peta sampai tujuan kita. He he he cape deh. Makanya, disiplin dengan tujuan akan memudahkan hidup kita. Mau dibawa ke mana program yang kita buat. Jangan banyak mlenca-mlence, maunya bisa ini bisa itu, jadi repot sendiri nantinya.

Setelah pengecekan selesai, baru kita bisa merasakan nikmat hadirnya program itu. Berapa waktu, uang, tenaga yang bisa digantikannya. Enak kan ? Sekarang waktunya kita menikmati hidup yang ada.   

Blogged with Flock

→ 3 CommentsCategories: Axapta

Test Slide

December 19, 2007 · 2 Comments

Saya sedang belajar posting slide yang ada di komputer saya ke dalam blog.

Tool yang saya gunakan, tentunya Microsoft Power Point, dan website untuk
menyimpan slide saya, di slideshare.net

Slide di atas saya dapatkan dari situs Microsoft Dynamics (Axapta).
Load nya lama kah, dari komputer-2 bapak/ibu semua ?

Blogged with Flock

→ 2 CommentsCategories: Axapta

Menonton film dan membaca novel, beda rasanya…

December 13, 2007 · 8 Comments

Tebakan saya, film ‘Ayat-ayat Cinta’ akan mengalami hal yang sama dengan film ‘The Da Vinci Code’. Film itu akan mengalami pengurangan imajinasi para penontonnya. Membaca buku atau novel berbeda dengan menonton film. Dalam membaca buku, kepala kita diberikan kesempatan untuk berimajinasi dari gambaran yang ada di novel. Sedangkan film, seluruh adegan, gambar, dialog, tidak memberikan kesempatan kepala kita untuk mengimajinasikan alur ceritanya. Karena seluruh isi film adalah pagar pembatas kepala kita berimajinasi. Kesempatan membayangkan raut wajah Fahri, sudah terbatas dengan wajah sang aktor. Bayangan kamar Fahri dan Aisah setelah mereka menikah, dibabat habis dengan setting ruangan dalam film.Membaca Da Vinci Code dengan menontonnya, memberikan sensasi yang berbeda buat saya. Lebih asik membaca bukunya. Karena saya bisa lebih bebas membayangkan alur kota Paris di waktu malam. Siluet lampu yang ditimbulkan dari temaram penerangan museum tempat menyimpan lukisan Monalisa. Persis sama dengan saya mengimajinasikan panasnya gurun pasir di Mesir sana tempat Fahri menuntut ilmu di Universitas Al Azhar. Tiupan angin dengan debunya, panasnya naik trem, segarnya minum jus buah setelah dari luar rumah di tengah terik panas padang pasir.

Mungkin ini juga sebabnya saya tidak terlalu suka menonton televisi. Disamping saya yang sudah cape untuk menonton, juga sudah tidak minat mengikuti berita basi yang ada. Karena lebih cepat dapat berita dari sms yang masuk ke HP saya, membaca blog dari teman-2 dan melihat situs berita resmi.

Tapi itu semua, hanya perkiraan saya saja. Daripada dikira sok tahu bin sok jadi peramal kacangan, lebih baik kita menonton saja film ini. Penilaian saya kembalikan ke anda sekalian, pemirsa. :D

Powered by ScribeFire.

→ 8 CommentsCategories: Way of Life

Cash discount

December 13, 2007 · Leave a Comment

Saya sedang mencari tahu, apakah Cash Discount yang ada di Axapta, bisa digunakan sebagai tempat penyimpan nilai dari discount yang terjadi di tempat saya ? Setelah Sales Order dibuat dan diinvoice, Sales Order tsb mengalami retur, permintaan discount lagi, dll. Jadi ada pengurangan nilai piutang kepada customer. Seandainya bisa digunakan sebagai tempat penampung dari discount yang ada, maka disimpulkan aplikasi standar Axapta bisa digunakan untuk bisnis proses yang terjadi di tempat saya, tanpa perlu modifikasi.

Setahu saya, modifikasi baru dilakukan jika secara ekstreme, aplikasi standar tidak bisa menangani bisnis proses yang terjadi. Dan secara kuantitas, jumlahnya berkisar 20 % – 30 % dari total besarnya aplikasi Axapta yang standar. Karena menurut buku yang pernah saya baca, modifikasi yang dilakukan diatas 30 % dalam suatu sistem seperti Axapta, berarti sudah tidak bisa disebut dengan enterprise application. Termasuknya ke dalam taylor made.

Powered by ScribeFire.

→ Leave a CommentCategories: Axapta