Arti Idul Fitri bagi pekerja medis

Berangkat dari rumah menuju masjid atau lapangan untuk menunaikan sholat Idul Fitri bersama segenap keluarga boleh jadi seperti keinginan memuncak orang kehausan untuk meminum air fatamorgana di padang pasir. Begitu jauh untuk bisa direngkuh, begitu besar keinginan untuk berenang di dalamnya, tapi kenyataan berbincang lain.

Berangkat sehabis subuh untuk mengejar waktu di jalan, agar bisa sampai di rumah sakit sebelum penuh jamaah sholat Ied. Perhitungkan juga waktu untuk menempelkan jari di mesin absensi, penanda kehadiran untuk hari kerja. Lalu mempersiapkan diri untuk sholat di lapangan parkir depan rumah sakit. Tidak terasa mata menitikan air, entah air kesedihan atau gembira, atau air dari perasaan yang kita tidak akan pernah tahu, dari relung hati bagian manakah engkau berasal duhai air mata…

Mendengar khutbah bisa jadi sembari membayangkan suami/istri/anak/orang tua tercinta yang berada di tempat lain. Apakah mereka merasakan apa yang kurasakan saat ini ? Apakah mereka tahu betapa diri ini ingin sekali ada di tengah-tengah kalian ? Tahukah kalian adanya goresan hati yang berkata, untuk apa aku berada disini, di rumah sakit ini, untuk bekerja menolong orang lain yang kesakitan, jika aku sendiri merasakan kesakitan karena berada jauh dari kalian.

Sungguh saya tidak mampu berkata ketika tangan istri mencium kening tangan ini meminta maaf di pelataran parkir seusai sholat Ied. Sungguh saya hanya terhenyak diam, mencoba merasakan arti kebersamaan keluarga di hari Idul Fitri. Mencoba menjelajahi ruang hatinya akan arti air mata yang menetes di pipinya.Campur baur gejolak…..tidak mampu merasakan, atau berpikir. Cuma kata, ‘Iya, mas juga minta maaf ya…’  

Tapi saya yakin, Allah Maha Melihat, dik. Yakin air mata ini akan dibalasNya, yakin sepi hati ini terobati nanti….


About this entry