Menerobos Kampung Melayu

Selasa malam rabu, pulang kerja setelah magrib. Ternyata di perjalanan macet luar biasa. Banyak kendaraan terjebak macet. Padahal hujan sudah dari kemaren malam tidak turun lagi. Artinya banjir sudah tidak meninggi lagi. Tapi apa mau dikata, macet tetap ada. Malah lebih parah dibanding hari kebanjiran.

Saya berusaha terus masuk ke antrian macet. Semakin ke dalam semakin tidak bisa jalan. Wow….ada apa ini? Tanya ke orang dari arah yg berlawanan. Dijawab, sudah dari jam 5 pak seperti ini. Ha? jam lima, sekarang kan sudah jam 7, lama banget.

Tanpa ba bi bu, saya langsung putar arah, menuju kampung melayu, lewat jalur jalan baru casablanca. Ini dia, pertama kali ditembus setelah banjir besar setinggi kira-kira 2-3 meter. Jalanan penuh lumpur, licin, di kanan kiri banyak sampah yang menyertai sisa-sisa banjir. Bangkai gerobak dimana-mana, karena kampung melayu merupakan daerah perdagangan aksesoris motor.

Ya Tuhan, bagaimana repotnya tuan rumah yang kebanjiran di kampung melayu. Sampai kapan mereka harus mengeringkan semua ? Sampai kapan mereka bisa kembali ke kehidupan normal ? Ternyata yang menimpa orang tua saya belum ada apa-apanya dibandingkan mereka. Rumah orang tua ‘hanya’ kemasukan setinggi pinggang. Mereka ? Bahkan batas air pun terlihat jelas di dinding rumah mereka.

Ya Allah, ternyata masih ada hamba-hambaMu yang terkena cobaan lebih parah dari orang tuaku. Ternyata hamba masih juga belum bisa total bersyukur atas semua peristiwa yang Engkau berikan…..

powered by performancing firefox


About this entry