Ternyata menjadi programmer freelance itu tidak mudah

Lha iya tidak mudah, bagaimana mungkin suatu proyek bisa selesai on time, kalau hari-hari pengerjaan diisi dengan pergi mengantar istri ke sana, kesini, membeli ini, itu, dll. Kalau seorang istri melihat suami yang mengerjakan pekerjaan di rumahnya dan kelihatan seperti orang yang diam, tidak melakukan apa apa, hanya duduk memandangi layar komputer, dianggap sebagai objek yang bisa diminta tolong,ya dijamin deh pekerjaan tidak akan selesai selesai. Kepala sang programmer bakalan penuh dengan baris-baris program yang ditinggal sebelum berangkat mengantarkan istri. Isi kepala penuh dengan semua kondisi if-then-else yang belum ditutup, catch-exception yang masih berantakan,dll..Jangan sampai meleng di jalan, kalau melihat lampu merah seharusnya yang diinjak pedal rem tapi malah narik gas, bagaimana, bisa bikin repot kan, malah berbahaya euy..

Ada seorang teman yang menjalani hari-harinya sebagai programmer freelance. Hampir setiap hari ada di rumah, tentunya mengerjakan proyek โ€“ proyek yang harus diselesaikan sebelum batas deadline. Sepanjang hari ada di depan monitor, kecuali ya itu, kalau tidak makan, ya tidur atau sholat, atau mengantar istri/keluarga. Kemarin dia memberi tahu saya, ternyata dia dapat proyek yang harus dikerjakan on site, artinya dikerjakan di lokasi proyek. Bisa di perusahaan pemberi proyek, bisa di rumah bos proyek tsb, atau lokasi lain yang sudah disetujui antara mereka, yang jelas bukan di rumah. Teman saya itu bilang, ternyata bekerja di luar rumah bisa lebih fokus ke pekerjaan, full time mengerjakan proyek dari pagi sampai sore. Tidak ada yang ‘mengganggu’. Dan yang lebih enak lagi, komunikasi antara programmer dan user, bisa lebih cepat. Bisa lebih menghasilkan solusi yang lebih jitu untuk digunakan pada saat pembuatan program.

Selama ini saya merasa, kalau bekerja di rumah akan lebih enak daripada kerja di luar rumah. Salah satu alasan yang sering saya pakai, bisa lebih menyediakan waktu untuk keluarga. Keluarga adalah nomor satu dalam hidup saya, baru setelahnya adalah pekerjaan. Tapi, kalau kejadiannya seperti yang dialami teman saya itu, wah repot juga ya, bisa hilang deh kepercayaan antara programmer yang mengimplementasikan dan user yang berharap selesai sesuai waktunya. Jangankan teman saya, wong istri telepon mengabarkan kondisi badannya tidak enak badan saja, atmosfir di kantor jadi berubah seperti badai calamity yang memporak-porandakan seisi kota. Apalagi kalau saya ada di rumah dan langsung melihat raut muka istri/keluarga yang sakit, tidak perlu ada kata-kata, yang ada saya mungkin bisa langsung pergi ke rumah sakit mengantarkan berobat. Benar-benar bayangan yang ekstrim yang pernah saya bayangkan tentang bekerja secara freelance.

Kalau membayangkan yang buruk-buruk dahulu sebelum kita menjalaninya, biasanya hasilnya seperti yang dibayangkan itu, buruk hasil akhirnya. Tapi kalau penuh rasa optimis, tanpa kehilangan kaki yang berpijak pada realita, berani ambil resiko setelah ditimbang dengan matang untuk resiko paling kecil yang akan diambil, saya yakin apapun cita-cita kita/saya/anda semua, pasti bisa kita raih. Raih kemenangan atau kekalahan adalah sama saja. Karena orang bilang, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Tapi koq rasa-rasanya saya belum siap menerima kekalahan. Masih belum bisa 100% ikhlas menerima keputusanNya.


About this entry