Menonton film dan membaca novel, beda rasanya…

Tebakan saya, film ‘Ayat-ayat Cinta’ akan mengalami hal yang sama dengan film ‘The Da Vinci Code’. Film itu akan mengalami pengurangan imajinasi para penontonnya. Membaca buku atau novel berbeda dengan menonton film. Dalam membaca buku, kepala kita diberikan kesempatan untuk berimajinasi dari gambaran yang ada di novel. Sedangkan film, seluruh adegan, gambar, dialog, tidak memberikan kesempatan kepala kita untuk mengimajinasikan alur ceritanya. Karena seluruh isi film adalah pagar pembatas kepala kita berimajinasi. Kesempatan membayangkan raut wajah Fahri, sudah terbatas dengan wajah sang aktor. Bayangan kamar Fahri dan Aisah setelah mereka menikah, dibabat habis dengan setting ruangan dalam film.Membaca Da Vinci Code dengan menontonnya, memberikan sensasi yang berbeda buat saya. Lebih asik membaca bukunya. Karena saya bisa lebih bebas membayangkan alur kota Paris di waktu malam. Siluet lampu yang ditimbulkan dari temaram penerangan museum tempat menyimpan lukisan Monalisa. Persis sama dengan saya mengimajinasikan panasnya gurun pasir di Mesir sana tempat Fahri menuntut ilmu di Universitas Al Azhar. Tiupan angin dengan debunya, panasnya naik trem, segarnya minum jus buah setelah dari luar rumah di tengah terik panas padang pasir.

Mungkin ini juga sebabnya saya tidak terlalu suka menonton televisi. Disamping saya yang sudah cape untuk menonton, juga sudah tidak minat mengikuti berita basi yang ada. Karena lebih cepat dapat berita dari sms yang masuk ke HP saya, membaca blog dari teman-2 dan melihat situs berita resmi.

Tapi itu semua, hanya perkiraan saya saja. Daripada dikira sok tahu bin sok jadi peramal kacangan, lebih baik kita menonton saja film ini. Penilaian saya kembalikan ke anda sekalian, pemirsa.πŸ˜€

Powered by ScribeFire.


About this entry