Menikmati hidup yang ada

Ini soal mengetik baris-baris program komputer, yang buat sebagian kita, untuk melihatnya saja sudah seperti melihat cabe pedas yang dipotong dekat mata, perih-pedas dibuatnya. Malah ada lagi sebagian yang ekstrim, koq ya ada orang yang kerjanya setiap hari melototi baris-baris yang sampai ribuan jumlahnya. He he he ya begitulah cara-cara orang dapet uang buat makan. Istilah bulenya, coding for living.

Setiap program komputer dibuat dengan 1 tujuan. Yaitu memudahkan hidup kita sebagai penggunanya. Tapi sayangnya proses untuk memudahkan, seringkali malah merumitkan. Lho koq bisa? Karena ternyata, memindahkan kegiatan sehari-hari ke dalam bahasa program komputer, sulitnya minta ampun, ini buat saya lho ya,  yang cekak IQnya, yang lambat respon otaknya.  Contohnya gini, misal saya mau ke wc, yang sekarang ini saya sedang ada di kamar, coba bikin program yang memetakan jalan dari kamar ke wc. Program ini harus detil sekali memetakannya, mulai dari bergerak dari tempat saya di kamar, sampai saya membuka pintu kamar mandi. He he he mulai kan terasa banyaknya langkah yang harus dipetakan. Dan asyiknya lagi, tidak ada peta yang sama dibuat, jika perintah yang sama diberikan ke orang lain untuk membuat peta yang sama.

Setelah peta dibuat, baru kita bisa masuk ke dalam aturan-aturan bahasa pemrograman, syntak, istilahnya. Jadi peta itu diterjemahkan ke bahasa mesin. Bahasa planet lain, yang para penghuninya mahluk-mahluk aneh  buat manusia. Bahasa pemrograman itu mirip toko material bangunan, yang didalamnya tersedia bermacam-macam alat/material untuk membangun rumah/toko/gedung/jalan dll. Semua ada ? Belum tentu, tergantung tokonya, punya apa saja ? Jadi penguasaan bahasa pemrograman sebenarnya tergantung sejauh mana kita kenal dengan isi dari syntaksnya. Kan sama saja kalau kita kenal toko material langganan, tahu barang yang tidak ada disana. Tahu kualitas barangnya. Tahu yang punya. Tahu harganya, mahal atau murah.

Setelah program komputer sudah dibuat, tahap selanjutnya adalah mengecek hasilnya. Sudah sama atau belum dengan kenginan kita. Kalau belum, rombak lagi baris-baris program yang sudah dibuat, susun lagi bongkahan pikiran-pikiran sebelumnya, lihat petanya, sudah benarkah jalurnya. Yang enak, sekali buat program, langsung benar sesuai dengan tujuan kita. Tapi umumnya, begitu jadi, ada saja hal yang ingin kita rubah, mulai dari peta sampai tujuan kita. He he he cape deh. Makanya, disiplin dengan tujuan akan memudahkan hidup kita. Mau dibawa ke mana program yang kita buat. Jangan banyak mlenca-mlence, maunya bisa ini bisa itu, jadi repot sendiri nantinya.

Setelah pengecekan selesai, baru kita bisa merasakan nikmat hadirnya program itu. Berapa waktu, uang, tenaga yang bisa digantikannya. Enak kan ? Sekarang waktunya kita menikmati hidup yang ada.   

Blogged with Flock


About this entry