Siapa yang tahu gilirannya ?

Baru tadi pagi saya lihat dalam perjalan ke kantor di daerah Sudirman, Jakarta, ada seorang wanita muda dengan anak di gendongannya, menjadi seorang joki untuk kawasan three in one. Kawasan ini terkenal dengan larangan untuk menaiki 1 mobil dengan 3 penumpang. Kurang dari 3 maka akan kena semprit. Nah ibu muda tadi menjajakan servicesnya ke mobil yang kurang dari 3 orang di dalamnya.

Sekilas, dari penampilannya tidak ada yang beda dengan orang kantoran yang ada di kawasan Sudirman. Kulit bersih, berpakaian rapi, style rambut updated, dengan kaca mata berframe besar seperti jaman kakek saya tapi sedang in akhir-akhir ini.

Buat saya, timbul pertanyaan, bisa jadi beliau benar seorang pekerja di kawasan ini atau tinggal di sekitar kawasan Sudirman yang memang masih banyak kampung ‘tidak tertata’. Di sela-sela pencakar langit yang menjulang perkasa dengan tinggi rata-rata 8 lantai keatas, masih ada suasana kampung yang bersahaja. Disana saya biasa makan siang, sambil ngobrol dengan supir-supir pribadi, dan rekan kerja yang lain juga.

Kenapa si ibu muda tadi menjajakan servicesnya sepagi ini, jam berlaku three in one adalah jam 8 sampe jam 7 malam. Apa benar dia kekurangan secara materi ? Kemana suaminya ? Apa sudah mengijinkan beliau dengan membawa sang anak kena terik mentari pagi ?

Hei, siapa tahu kita bisa ada di posisi seperti ibu muda tadi. Siapa yang bisa mengira hidup kita bisa selamanya ada di posisi ‘enak’ seperti sekarang ? Seandainya saya ada di posisi suaminya si ibu muda tadi, apa saya bisa mengijinkan istri saya melakukan hal yang sama ?

Satu yang saya berusaha tanamkan, life is never flat. Ini bukan menyangkut soal comfort zone atau kesempatan yang tidak kunjung tiba untuk lompat ke tingkat yang lebih baik. Ini soal siap atau tidak di tiap episode. Doa saya cuma satu, selalu siapkan hati dan badan saya menghadapi semua.


About this entry